Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Makkatul Mukarammah, 26 Juli 2010

Dengan izin Allah SWT yang sungguh Penyayang itu, dapatlah untuk pertama kalinya aku mengalami Saie yang sangat ajaib sewaktu umrah di Makkatul Mukarramah. Peristiwa ajaib itu berlaku setelah aku berdoa sepenuh dan sesungguh hati kepada Allah dengan memanggil anak kuncinya Abuya Al Fatta Attamimi supaya mengizinkan roh Siti Hajar untuk bersama melakukan Saie. Saie yang dibuat sepenuh hati seperti yang Allah kehendaki.

Sungguh luar biasa. Begitu saja aku mulakan perjalanan sejauh 3 Km itu, 7 kali pulang pergi antara Bukit Sofa dan Bukit Marwah selama satu jam masanya, Allah pun memperlihatkan kepadaku roh Siti Hajar RA. Tiada upayaku untuk mempastikan apa benar wanita itu ialah Siti Hajar. Kalaulah ada orang cenderung untuk mengatakan ianya bukan Siti hajar! Dan mungkin yang kulihat dengan hati atau roh itu ialah syaitan, silahkanlah!Terserah!

Namun apa pun reaksi dari manusia, aku tetaplah yakin dan pasti bahwa ia adalah isteri kedua Nabi Ibrahim AS yakni Ibu Siti Hajar. Dia bersaie mendahului aku. Mengambil bagian tepi kiri jalan, di bagian atas yakni di udara dengan ketinggian 3 kali tinggi manusia biasa. Artinya ia kulihat berjalan di udara, bukan di atas lantai seperti yang biasa orang lakukan.

Siti Hajar memakai pakaian berwarna hitam, berselubung seluruh tubuhnya, seperti wanita-wanita Arab biasanya. Oleh karena ia berjalan mendahuluiku, aku tidak mampu melihat mukanya. Kurus saja badannya dengan tinggi sekitar 150 cm. Dia kulihat berlari-lari anak atau berjalan cepat dengan badan rohnya itu kadang-kadang bergoyang ditiup angin kencang padang pasir (di zamannya). Atau rohnya itu bagiku berguncang oleh gegaran kebimbangan nasib anaknya yang sedang kelaparan dan kehausan! Demikianlah aku dipahamkan.

Siti Hajar, Ibu Umat Islam yang sungguh besar jasanya kepada kita. Allah memerintahkannya untuk melakukan satu tanggungjawab yang sungguh sulit. Yaitu untuk mempastikan air keluar dari bumi Allah di sebuah padang pasir gersang yang sama sekali tiada airnya. Wanita itu berperanan mengeluarkan air dari Allah untuk melengkapkan sebuah perkampungan Allah yang Allah hendak bangunkan di tempat itu. Bandar itu kini dinamakan Makkatul Mukarramah, tempat Allah dan para Rasul mempamerkan syiar Agama mereka.

Ibu Siti Hajar dan anaknya Nabi Ismail telah terpilih melaksanakan skrip Allah yang sudah diarahkan kepada Nabi Ibrahim AS. Ibu Siti Hajar pun dibawa ke lokasi yang ditetapkan bersama anak kecilnya Nabi Ismail.

Karena belum paham lagi apa maksud Allah kepadanya, Ibu Siti Hajar pun bertanya kepada suaminya Nabi Allah Ibrahim AS, “Apakah benar ini perintah Allah kepadaku untuk tinggal hanya bersama anak kecil ditengah-tengah padang pasir yang tandus dan kering kerontang tanpa sesiapa?”

Nabi Ibrahim AS pun membenarkannya “Ya ini perintah Allah kepadaku.”

Ibu Siti Hajar akhirnya setuju dan berkata “Moga-moga Allah tidak akan mensia-siakan aku.”

Maka bermulalah penggambaran filem yang agung tiada tandingannya di sepanjang sejarah dunia. Allah SWT menghendaki Siti Hajar tinggal denganNya bersama anak kecil. Selama satu tahun ditinggalkan suami. Tidurlah si ibu dengan anaknya penuh ketakutan, bertemankan Allah. Wanita manalah yang sanggup hidup begitu? Sudah ditinggalkan suami, penuh ketakutan dan kemiskinan. Penderitaan Siti Hajar Allah tidak sia-siakan sama sekali. Lihat tempat tidurnya Allah pilih untuk dibangunkan rumah Allah. Berjuta-juta manusia telah ikut datang dengan rela dan bahagia. Untuk mendapatkan Allah di tempat Ibu Siti Hajar membuktikan cintanya kepada Allah itu.

Di suatu hari yang Agung, keajaiban paling ajaib ditaqdirkan berlaku kepada Ibu Siti Hajar. Anak kecil ditinggalkan sendirian di tempat tinggal karena Siti Hajar keluar mencari air. Susu badannya sudah kering sama sekali. Ismail menangis kehausan. Jarak antara ibu dengan anak ialah jarak Kaabah ke tempat Saie. Agak jauh jugalah bagi seorang bayi yang sangat memerlukan perlindungan. Ibu mana yang mau anak satu-satunya dibiarkan begitu?

Allah biarkan Siti Hajar dengan kesusahan, berlari pulang pergi 7 kali di antara Sofa dan Marwah, menembus padang pasir yang terik panas dan angin kencang. Membawa hati yang sangat mengharapkan Allah memberikan air untuk anaknya yang sedang berada dalam kemungkinan mati kehausan. Ibu Siti Hajar sendiri kulihat sudah terlalu letih lesu, sudah kekeringan dan bisa jatuh, mati atau pingsan. Dia sudah terhuyung-huyung nampaknya. Dia hampir lemas dalam penderitaan dan kehabisan tenaga. Allah dan para roh pun sudah tidak sanggup menyaksikan filem ini. Filem maut yang diambil oleh Siti Hajar untuk mempersembahkan cinta kepada Allah.

Dia tidak percaya bahwa Allah yang baik sanggup mensia-siakan permintaannya untuk anaknya. Lalu dia teruskan menggadai nyawa untuk Allah yang diyakini tidak akan mensia-siakan harapannya. Dia yakin Allah yang Maha berkuasa akan menyelesaikan masalahnya dengan kuasa itu.

Dia tidak ingin kecewa, tidak ingin putus asa dengan Allah. Dia akan buktikan kepada Allah bahwa dia teramat yakin bahwa Allah ada, sedang mengujinya, sedang melihat aksinya dan sedang meminta keredhaan dan kesabaran di atas ujianNya. Dia tahu Allah yang sedang membersihkan dirinya dengan penderitaan itu. Maka diberikanlah kepercayaan yang sebesar-besarnya kepada Allah tentang nasib dirinya dan anak kecilnya itu.

Sekali-sekali didalam pencariannya, Ibu Siti Hajar melambai-lambai kepada anaknya dengan doa yang makin mendalam, agar Allah selesaikan masalah mereka. Dia jatuh tersungkur dan bangun lagi untuk menyatakan kepada Allah bahwa dia redha dengan keputusan Allah mengazab deritakan dia dan anaknya.

Oleh karena air tidak juga keluar-keluar dia akhirnya kembali kepada anaknya. Dan amatlah terkejutnya bila dilihat ada air keluar dari tanah tempat kaki kecil si anak menghentak-hentak.

Wahai Roh Ibu Siti Hajar yang Mulia.

Aku melihat keadaan dirimu ketika melihat air keluar dari bumi oleh hentakan kaki kecil Nabi Ismail mu, kau tersungkur sujud kepada Allah dan terpegun kepadaNya. Engkau sangat heran dengan Allah dan keajaibanNya. Walaupun jasad, yakni tanganmu mengepung air tapi hatimu terpaku kepada Allah yang Maha Berkuasa. Ibu Siti Hajar, betapa kau tiada kata-kata untuk menyatakan perasaan mu terhadap Tuhan mu waktu itu.

Maha Bijaknya Allah yang membuat orang kesayangan tidak jatuh cinta kepada dunia karena sangat terpesona kepada cinta Tuhannya.

Saie berakhir dalam keadaan aku terus terbawa oleh filem yang baru selesai ditonton. Filem yang membuat aku juga terpesona dengan Allah. Allah yang dalam masa yang sama sedang membuat juga tayangan filem baru:

Seorang perempuan diburu Yahudi karena takut dengan karomah suaminya, yakni Putra Bani Tamim. Yahudi takut karena perempuan tersebut mengatakan suaminya yang dilihat mati itu sebenarnya belum mati, hanya ghaib dengan roh dan jasad untuk nanti kembali ke bumi dengan roh dan jasad baru untuk memerintah di dua Negara yaitu Malaysia dan Indonesia bahkan Asia. Cerita ini seperti sebuah dongeng, tapi mengapa akibatnya dahsyat sekali. Perempuan itu, yaitu Ummu Jah diburu bagaikan binatang ganas untuk ditangkap dan dibunuh (perjuangannya).

Maka larilah dia ke Negara Thailand terus ke Jordan dan akhirnya ke Haramain yakni Mekah- Madinah. Pelarian yang ajaib yang cerdik dan strategik. Lari untuk menyelamatkan Iman dan Islam sejuta jemaah suaminya dari dihancurkan oleh Yahudi dan konco-konconya.

Iman dan Islam awalnya dibawa ke Malaysia dari Mekah Madinah tetapi kini ia dibawa lari dari Malaysia ke tempat asalnya Haramain. Sebuah Pelarian yang sebenarnya telah disebut dalam hadis, perjalanan pergerakan Islam dari kampung asalnya kembali ke asal oleh Ummu Jah dan para Ikhwan atas arahan pemimpin-pemimpin ghaib 3 serangkai yang diketuai oleh Baginda Rasul Muhammad SAW, Imam Mahdi dan Putra Bani Tamim.

Terkejut yang amat sangat menyaksikan karomah besar Abuya setelah ghaibnya, Yahudi pun mencari jalan untuk memutar belitkan fakta kebenaran dengan kata-kata Ajaran Ummu Jah. Kononnya Ummu Jah itu menyambung ajaran sesat Abuya lalu di namakan ajaran itu Ajaran Ummu Jah. Dan dengan itu sekolah-sekolah berpendidikan Rasulullah oleh Putra Bani Tamim sepertinya akan ditutup dan jemaah dapat hancur karenanya.

Maka di Makkatul Mukarramah Ummu Jah dengan para pimpinan Global Ikhwan dan Ibu-ibu Jemaah pun melakukanlah Umrah. Filem itu menyaksikan roh Siti Hajar memandu Ummu jah bersaie antara Sofa dan Marwah. Sambil menangiskan perjuangan dan pengorbanan Ibu Siti Hajar yang amat menyayat hati, Ummu Jah juga menangiskan nasib Jamaah Islam yang mungkin hancur bersama Iman dan Islam oleh kejahatan Yahudi dan konco-konconya. Sepertimana bimbangnya Ibu Siti Hajar akan nasib anaknya begitu jugalah bimbangnya Ummu Jah akan nasib Islam.

Ya Allah, jangan, jangan, janganlah
Islam dan Iman dibiarkan hancur lagi
Sesudah dengan segala susah payahnya
Ia dibangunkan kembali oleh Abuya Al Fatta Attamimi dari kehancuran pertamanya
Tuhan, sekolah itu sebenarnya
Menjalankan cara pendidikan Rasulullah SAW
Sekolah itu memulakan dengan memperkenalkan Allah,
Anak-anak itu sayang pada Allah,
Juga sayang pada Nabi, sayang pada Saiyidi Syeikh Suhaimi, Abuya Al Fatta Attamimi,
Mereka ialah abid dan pejuang kepada Allah dan orang-orangNya,
Nasib mereka akan cukup baik dunia akhirat,
Tolong selamatkan sekolah itu wahai Tuhan,
Ia telah pernah dapat dihancurkan mereka
Tapi Kau telah kembalikan pada Abuya
Maka jangan jangan janganlah Tuhan
Kau biarkan lagi dia kepada Si Yahudi
Selamatkanlah oleh Abuya Putra Bani Tamim
Abuya sudah wajib kembali untuk Daulah,
Tuhan keluarkanlah Abuya, pulangkan Abuya
Kembalikan Abuya untuk selamatkan Iman dan Islam,
Ya Allah, Ummu Jah tidak meminta air dari Mu
Sepertimana Ibu Siti Hajar melakukannya,
Tapi Ummu Jah sangat memerlukan pembelaan-Mu
Kepada nasib Islam di Malaysia,
Takutnya kalau Islam mati oleh Yahudi
Ngerinya dengan perancangan jahat musuh-musuh,
yang menyerang dari depan, belakang
Kiri, kanan, atas dan bawah,
Tapi Ummu Jah sangat yakin dengan kuasa Mu Tuhan,
Ummu Jah tidak percaya Allah akan sia-siakan keyakinan ini
Ummu Jah tidak percaya Allah akan biarkan Islam
Seperti mana air dapat keluar dari batu
Untuk Ibu Siti Hajar dan Nabi Ismail
Sungguh Daulah Islamiyah akan berlaku
Untuk selamatkan Iman dan Islam
Di tangan Abuya, keluarga dan jamaahnya,
Ya Allah, itukan janji Mu
Dan mustahil Engkau akan mungkir janji
Segerakan Ya Allah, segerakanlah
Menyelamatkan Islam oleh Abuya Putra Bani Tamim,
Jangan, jangan oh janganlah Tuhan
Kau biarkan ia dihancurkan lagi
Oleh musuh-musuh Mu,
Amin, Amin, Amin.

Apabila Saie selesai, selesailah tayangan dua filem Allah untuk dua zaman yang digabung menjadi satu di akhir zaman. Manusia-manusia yang banyak mengerumuni Tanah Haram adalah saksi-saksi bahwa filem itu benar-benar telah berlaku dan akan berlaku.

Orang-orang lelaki sanggup menggayakan pakaian ‘tahanan’ kemudian berjalan-jalan dan berlarl-lari anak selama satu jam, 7 putaran dari Safa dan Marwah sejauh 3Km dengan sungguh-sungguh.

Allah mau manusia meniru Siti hajar, membuktikan cinta, mewujudkan kuasa Allah bahwa Allah mampu melakukan keajaiban dengan mengeluarkan air zam-zam di padang pasir. Keajiaban itu dibayar dengan dua nyawa oleh Siti Hajar dan Nabi Ismail. Kaum bapak adalah bersalah selama belum serius dengan Allah seperti seriusnya Ibu Siti Hajar.

Kaum lelaki sepatutnya setelah Saie, sanggup membuktikan cinta kepada Allah dengan mati-matian membangunkan dan mempersiapkan Daulah Islamiyah bersama Rasulullah, Saiyidi Syeikh Suhaimi dan Abuya Al Fatta Attamimi.

Kaum perempuan banyak yang bersaie dengan gaya menutup aurat seperti mayat. Artinya kaum wanita mesti membuktikan cinta kepada Allah dengan sanggup menjadi mayat sepertimana Siti Hajar. Utamakan Allah dan kehendak Allah di dalam kehidupan. Jangan syirikan Allah dengan cara memperturutkan nafsu dengan cara hidup Yahudi yang kedua-duanya sangat benci kepada Allah.

Sekian menelusuri perjalanan sejarah kebangkitan Islam yang berulang dari zaman ke zaman oleh pemimpin-pemimpin kebenaran.