Tags

, , , , , , , , , , , , , , ,


Ka’bah, Rumah Allah berwarna hitam. Tiada tangga, bangunan mendekati bentuk kubus dan pintunya satu, tanpa jendela. Atapnya rata saja. Rumah paling tua, tidak rusak-rusak terus utuh di tengah-tengah dataran Masjidil Haram. Kecil saja Rumah Allah ini dibandingkan dengan bukit-bukit yang mengelilinginya. Juga kecil jika dibandingkan dengan ukuran bangunan-bangunan sekitar yang bagaikan pencakar langit gayanya.

Rumah Allah pernah dilanda banjir dan rusak. Hujan lebat menyebabkan air dari bukit-bukit terjun ke lembah yang suci itu, maka terjadilah banjir. Namun hingga ke hari ini ia tetap disitu, keadaannya terus begitu dan terus meneruslah sibuknya menerima tetamu Allah di setiap waktu.

Allah ketika memerintahkan rumahNya ini dibangunkan, memilih para malaikat dan Nabi-nabi (Rasul-rasul) untuk melakukan pembangunan. Bahan-bahan bangunannya juga ada yang dibawa dari syurga dan juga batu-batu yang diambil dari Bukit Qubais di sebelahnya. Dari tangan ke tangan Ka’bah ini dipelihara Allah. Ia melalui zaman ke zaman dan mampu bertahan hingga kini. Ada saja musuh-musuh Allah yang ingin menghancurkan Rumah Ajaib ini, namun semuanya gagal. Maka sampai ke hari ini ia terus berperanan dan bertahan.

Baitullahi Haram, sesungguhnya adalah sebuah ciptaan Allah yang Maha Ajaib. Yakni sebongkah batu hitam besar yang dilekatkan padanya sebongkah batu hitam kecil (Hajarul Aswad). Batu kecil itu betul-betul terletak di sudut sebelah pintu Ka’bah. Di bagian dinding Ka’bah yang berdepan dengan Makam Ibrahim (tapak kaki Nabi Ibrahim AS).

Di dinding sebelah kanannya, di bagian atap, terjulur keluar talang air berwarna emas, untuk menyalurkan air dari atap Ka’bah yang rata itu jika ada hujan dan lain-lain. Di sebelah Ka’bah dimana terdapat talang Emas ini, di bawahnya terletak Hijir Ismail (Benteng Ismail).

Selain sudut Hajarul Aswad dan Hijir Ismail ada juga sudut Sham (Rukun Sham), dua sudut Ka’bah lagi dinamakan sudut Iraqi (Rukun Iraqi) yang menghadap ke Iraq dan sudut Yamani (Rukun Yamani) yang menghadap ke Yaman. Sungguh Luas jangkauan Rumah Hitam ini.

Demikianlah struktur sederhana dari Rumah Paling Agung dari seluruh rumah-rumah di muka bumi ini. Apakah arti pada setiap sudutnya, pada Makam Ibrahim, Hijir Ismail, Hajarul Aswad, Talang air Emas, Pintu Ka’bah dan kelambunya?

Allah SWT menghadapkan rumahNya ke Iraq, Sham dan Yaman sedangkan Ka’bah berada di Arab Saudi. Di sudut Hajarul Aswad arahnya ke Syurga karena batu kecil itu asalnya dari Syurga.

Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail serta Siti Hajar adalah nama-nama besar yang Allah muliakan bersama kemulian Rumahnya itu. Karena Telaga Zam-zam di depan Ka’bah yang telah ditutup itu (karena disalurkan ke tempat lain), tetaplah Allah pertahankan namanya dan kewujudan Siti Hajar yang terlibat langsung mengusahakannya. Semua tetamu Allah dihidangkan air Allah ini, sampai hari ini tidak kering-kering.

Pintu Rumah Allah jarang sekali dibuka bagi tetamuNya. Pendek kata para tetamu hanya dilayan di luar rumah saja. Kalau ingin masuk pun manalah mungkin muat. Rumah itu kecil saja dibandingkan banyaknya tetamu yang datang.

Kalau begitu, untuk apakah ruangan sempit didalam Ka’bah itu disediakan oleh Allah? Kata Abuya Putra Bani Tamim, Allah mengundang kita ke rumahNya untuk menuju Allah. Untuk ‘berjumpa’ Allah. Untuk ‘mendapatkan’ Allah. Yakni akan membuat seseorang hamba senantiasa dengan Allah, cinta, rindu dan takut pada Allah.

Rumah Allah itu dapat dilihat, dapat digenggam. Tapi Tuan Rumahnya Ghaib, tidak dapat dilihat, tidak dapat disentuh, digenggam. Rumahnya lahiriah, Tuannya maknawiyah. Rumah hanyalah wasilah sedangkan matlamatnya ialah Allah. Ka’bah  itu bukan Allah, hanya ‘Rumah Allah’. Sebagai cara untuk Allah memudahkan hamba-hamba untuk datang padaNya. Datanglah ke rumahNya. Di rumahNya itu, kita akan dapat Allah. Bagaimana?

Rasulullah SAW ketika Mi’raj, kenderaannya ialah Buraq. Buraq itu adalah jasad dan roh karena Rasulullah SAW diangkat dengan jasad dan roh. Rohnyalah yang membawa jasad bukannya jasad membawa roh.

Alat yang Allah gunakan untuk mengangkut roh kita menuju Allah ada didalam Ka’bah. Sesiapa yang rohnya Allah terima masuk ke Ka’bah, disambut oleh alat ini dan kemudian roh itu di tawafkan ke langit pertama hingga ke tujuh dan terus ke Sidratul Muntaha di tempat dimana Nabi Muhammad SAW melihat Allah. Tempat yang cahaya Jibril pun tidak cukup kuat untuk sampai ke situ.

Namun Nur Muhammad mampu melakukannya. Power Cahaya Nabi kita itu telah terbukti mampu melahirkan orang yang telah mengingati Allah, cinta dan takut yang amat sangat! Setiap nafasnya adalah penuh kerinduan kepada Allah. Tokoh Agung bagi zaman kita ini adalah hasil didikan Nabi Muhammad SAW, selaku Nabi Akhir Zaman walaupun sudah wafat. Kedua-dua tokoh diciptakan untuk mendapat roh yang sangat kuat. Hingga mampu ghaib dengan roh dan jasadnya juga. Kedua-dua murid ini ialah Imam Mahdi dan Putra Bani Tamim. Hanya kemampuan mereka tidaklah sehebat gurunya.

Rasulullah saw mampu ghaib tujuh jam dengan fisik dan roh secara serentak, kemudian datang kembali ke bumi. Setelah berulang alik diantara langit ke empat dengan Sidratul Muntaha berjumpa Allah dengan roh dan fisik untuk minta dikurangkan waktu sholat. Juga sempat mengalami 1001 jenis pengalaman dalam perjalanan ghaib Isra’ dan Mi’raj yakni roh membawa fisik, bukannya fisik membawa roh.

Artinya alat itu ialah cahaya Nur Muhammad yang karenanya alam diciptakan, anak kunci bagi semua kejayaan. Cahaya itu adalah sumber segala cahaya. Hati manusia yang setiap saat bersama Allah. Abuya Putra Bani Tamim adalah Sohibuzzaman, mewakili Nabi Muhammad SAW mengangkat roh-roh yang datang ke Ka’bah untuk dibawa kepada Allah di Sidratul Muntaha.

Posisi Sidratul Muntaha adalah di alam Ghaib, di atas Baitul Makmur yang terletak di langit ke tujuh, tempat Malaikat bertawaf kepada Allah. Letaknya betul-betul bertepatan dengan kedudukan Ka’bah di bumi yaitu di pusat bumi.

Roh-roh pun ‘bertemu’ Allah, ‘melihat’ Allah dan jatuh cinta, rindu dan takutkan Allah. Roh itu tidak dapat lagi melupakan Allah. Roh itu roh yang sudah suci dari nafsu mazmumah, dari belenggu syaitan, Yahudi, Nasrani dan dunia yang menipu ini. Kembali dari Mekah, manusia yang sudah berubah jadi orang roh itu tadi jadi berbeda dari sebelumnya. Tingkah laku Yahudinya sudah tiada lagi.

Begitulah kehebatan Power Ka’bah (atau Ka’bah Rohaniah). Power ini dapat dirasai oleh tapak tangan kita pada Ka’bah lahiriah itu sendiri. Yaitu ketika kita melambai (istilam) di dua sudut sambil berkata ‘Bismillahi Allahu Akhbar’, tapak tangan kita akan terus menerima power. Power yang sama dengan apa yang kita rasa ketika mengambil power dari Abuya. Siapa yang dapat power Ka’bah artinya Ka’bah menerimanya. Ka’bah Rohaniah akan mengambil rohnya untuk dibawa kepada Allah SWT.

Hajarul Aswad itulah sebenarnya tempat keluar power itu. Symbol Nur Muhammad yang cahayanya mampu menembusi kegelapan hati. Hati jadi bercahaya kembali bilamana kegelapan hati disucikan oleh cahaya Muhammad. Hitamlah sudah batu kecil dari Syurga itu oleh dosa-dosa. Padahal, ia sebenarnya cahaya yang terang benderang. Mata biasa tidak mampu melihatnya.

Wahai Ka’bah lahiriah dan Ka’bah Rohaniah,

Wahai Tuan punya Ka’bah Lahir dan Ka’bah Rohaniah,
Hamba Mu kini datang ke pangkuan Mu,
Minta untuk diambil hatiku,
Hati yang telah aku kosongkan dari dunia dan segalanya,
Karena ia hanyalah untuk Mu Wahai Allah,

Wahai Hajarul Aswad,
Inginnya hati mengucupmu, tapi apakan daya
Kau tolong kucuplah rohku dengan cahaya mu,
Dan antarkan aku kepada Allah
Agar roh dapat bertemu tuannya,
Agar Tuhan tidak dapat lagi ku lupakan,
Biar Yahudi tidak ku ikuti lagi tingkah lakunya,
Agar dunia yang menipu tidak kucintai lagi,
Agar nafsu syaitan ku Islamlah juga akhirnya,
Wahai Ka’bah aminkanlah doaku ini.

Begitulah pembahasan tentang suatu ilmu yang Allah rezekikan kepada Umat Islam akhir zaman oleh Abuya Putra Bani Tamim melalui Ummu Jah. Yaitu Power Ka’bah yang merupakan roh Al Quran kecil (Zikir Agung Aurad Muhammadiyah) yang sama dengan Roh Al Quran besar. Allah kuatkan Nabi akhir zaman (yang berkediaman di dalam Ka’bah) dengan power ini untuk melakukan kebangkitan Islam kali kedua bersama Imam Mahdi dan Putra Bani Tamim. Mengulangi kebangkitan pertama juga oleh Baginda Rasul bersama empat tokoh utama yaitu Khulafah Ar Rasyidin.